Waspadai Produk Pemutih Gigi yang Beredar Bebas

Pemutih Gigi

Pertama-tama saya tekankan bahwa tidak ada maksud untuk memojokkan pihak tertentu dalam tulisan ini, namun saya merasa berkewajiban untuk memberikan informasi sesuai fakta yang pernah saya temui secara langsung dalam hal penggunaan produk pemutih gigi yang dijual bebas.

Seorang pemuda pernah datang ke klinik dan mengeluhkan gigi yang berwarna kekuningan. Dari riwayat pemuda tersebut diketahui bahwa sebelumnya dia sering menggunakan produk pemutih gigi yang dijual bebas. Memang produk tersebut memberikan hasil sesuai yang diinginkan pemuda ini, namun setelah beberapa waktu berlalu, intensitas pemakaian produk ini menjadi lebih sering karena dia merasa giginya gampang menguning. Dari pemeriksaan klinis yang dilakukan, terlihat jelas bahwa gigi pemuda tersebut tampak berwarna pucat (tidak mengkilap, doff). Apakah produk pemutih gigi ini penyebabnya?

Produk pemutih gigi banyak jenisnya menurut cara pemakaian, maupun cara kerja bahan aktif yang terkandung di dalamnya. Tidak akan saya singggung secara mendetail tentang bahan aktif apa, dosis, serta cara pemakaiannya karena setiap produk memiliki spesifikasi berbeda dan yang paling penting menghindari penyalahgunaan produk tersebut. Namun yang perlu ditekankan disini adalah bahwa semakin cepat suatu bahan aktif bekerja, menandakan betapa “keras” sifat bahan atau tingginya dosis bahan aktif tersebut.

Dalam prakteknya, selain menggunakan produk yang jelas asal usulnya (pabrikan ternama, harga relatif mahal), produk pemutih gigi ada yang diaplikasikan langsung oleh dokter gigi, dan ada pula yang dapat dipakai oleh pasien tentunya dengan pengawasan dokter gigi. Mengapa perlu pengawasan seorang profesional? Karena bahan aktifnya yang sangat reaktif, sehingga kandungan bahan aktif dan lamanya waktu aplikasi harus sesuai. Pasien A dan pasien B yang memiliki tingkat pewarnaan gigi yang sama di mata seorang dokter gigi, namun bagi masing-masing pasien belum tentu demikian, bisa saja pasien A menganggap giginya sudah sangat “kuning” namun pasien B menganggap giginya “agak kuning”. Bila kedua pasien membeli produk pemutih yang sama untuk dipakai sendiri, kemungkinan besar pasien A akan terdorong untuk menggunakannya lebih dari dosis yang seharusnya.

Sebenarnya masih banyak seluk beluk soal pemutih gigi ini, namun untuk lebih jelasnya saya menganjurkan untuk bertanya langsung pada dokter gigi. Perlu diingat bahwa tidak semua kasus pewarnaan pada gigi membutuhkan produk pemutih gigi. Jangan mudah tergiur pada sebuah produk yang tidak jelas asal usulnya, apalagi dengan harga murah dan menjanjikan hasil dalam waktu singkat, lalu digunakan tanpa pengawasan profesional.

Semoga tulisan singkat ini memberi sedikit pencerahan, mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah.

Sumber gambar: mybodyshop.blogspot.com