Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark) – Ringkasan Laporan Praktikum

Analisis bitemark merupakan teknik identifikasi untuk mempelajari cara menemukan kesamaan antara pola gigitan pada bitemark dengan cetakan model gigi yang ada. Gigi setiap manusia memiliki ciri khas tersendiri yang dapat berupa pola lengkung gigi, malposisi, jumlah gigi dan lain sebagainya. Teknik analisis ini dapat digunakan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Teknik yang sering digunakan yaitu membandingkan bukti fotografik dimana gigitan dibandingkan dengan hasil cetakan gigi (Van der Velden et al, 2006).

Ulasan kali ini merupakan ringkasan dari laporan praktikum analisis bite mark yang dilakukan pada Instalasi Radiologi RSGM Prof. Soedomo FKG UGM Yogyakarta.

Skenario dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
– Salah satu anggota kelompok yang terdiri dari 4 orang (AT, PA, NS, dan JA) akan menggigit apel hijau
– Anggota kelompok yang menggigit apel tersebut diibaratkan sebagai pelaku penggigitan, sedangkan tanda gigitan pada apel hijau diibaratkan sebagai tanda gigitan yang terdapat pada korban kejahatan
– Analisis bite mark dilakukan untuk menentukan salah satu anggota kelompok yang menjadi pelaku penggigitan.

Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menganalisis bitemark:

1.      Model gigi rahang atas dan bawah masing-masing anggota dikumpulkan terlebih dulu pada pembimbing.
2.   Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan pada apel hijau yang telah disediakan, baik gigitan dangkal maupun gigitan dalam.
3.    Hasil gigitan dicetak dengan alginat dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm, cetakan kemudian diisi dengan gips stone.
4.      Identifikasi pola gigitan dan ciri gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bitemark.
5.    Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bitemark menggunakan platik transparan dan kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang ada.
6.     Membandingkan ciri yang telah diidentifikasi pada cetakan bitemarktadi dengan model gigi rahang atas dan bawah milik semua anggota kelompok.
7.  Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan identifikasi yang telah dilakukan.
8.      Dilakukan perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang dianggap sebagai pelaku gigitan.
9.    Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan yang sudah ada dan dari model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat ke dalam tabel.

Alat dan bahan yang digunakan :
1.      Satu buah apel hijau untuk satu kelompok
2.      Model gigi rahang atas dan rahang bawah milik masing-masing anggota kelompok
3.      Alginat dan gips stone
4.      Wadah untuk mencetak apel
5.      Plastik transparan dan spidol marker


Analisis Bitemark

 Hasil cetakan pada apel yang tergigit:

Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Hasil tracing determinasi lengkung gigi:
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Pada gigitan dangkal RA terdapat 3 catatan gigitan sempurna (12, 11, dan 21) dan 1 catatan gigitan tidak sempurna (22). Sedangkan pada gigitan dangkal RB terdapat 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42). Pada gigitan dalam RA terdapat 4 catatan gigitan sempurna (12, 11, 21, dan 22). Sedangkan pada catatan gigitan dalam RB terlihat adanya 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42 )
Baik pada gigitan dangkal maupun gigitan dalam dapat diketahui malposisi gigi individual, antara lain:
Rahang atas :  22 mengalami mesiopalatotorsiversi
Rahang bawah : 31 mengalami linguoversi

Perbandingan Bitemark dengan Beberapa Model Gigi
1. Model Studi milik AT
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.






2. Model Studi milik PA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





3. Model Studi milik NS
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





4. Model Studi milik JA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Berdasarkan perbandingan antara bitemark dengan cetakan model gigi tersangka, terdapat kemiripan lengkung gigi dan malposisi gigi individual. Model RA tersangka terdapat malposisi berupa 22  mesiopalatotorsiversi. Sedangkan pada RB didapat 31 linguoversi. selain itu kecenderungan dari pola insisal gigi JA yang tidak rata (pada insisal gigi insisivus lateral rahang atas berbentuk meruncing) hal tersebut terrekam dalam bitemark yang ditunjukan dengan kedalaman bitemark gigitan dangkal sisi gigi insisivus lateralnya cenderung lebih dangkal disbanding gigitan gigi insisivus sentral dan ciri tersebut tidak dimilik oleh keempat tersangka lain, gigi insisivus lateral rahang atas tersangka lain memiliki dataran insisal yang datar.


Hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi, gigitan dangkal dan gigitan dalam, serta diskrepansi bitemark dengan lebar mesiodistal gigi:

Elemen gigi
Lebar mesiodistal gigi (mm)
Model rahang
Gigitan dangkal
Diskrepansi
Gigitan dalam
Diskrepansi
12
7,02
5,00
2,02
7,78
0,76
11
9,04
9,00
0,04
9,20
0,16
21
8,56
7,76
0,80
8,84
0,28
22
6,92
7,04
0,12
32
6,08
6,02
0,06
5,70
0,38
31
5,48
5,28
0,20
5,74
0,36
41
5,86
5,18
0,68
6,00
0,14
42
5,32
5,82
0,50
6,02
0,70
KESIMPULAN:
  1.  Pelaku yang menggigit apel pada kasus ini adalah JA
  2.  Terdapat distorsi lebar mesiodostal gigi pada bekas gigitan dengan lebar mesiodistal gigi pelaku 
  3. Distorsi rahang yang terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan sudut rahang, posisi tubuh saat menggigit, serta faktor lain seperti pencetakan yang kurang baik.
  4. Penetapan pelaku penggigit apel berdasarkan kemiripan pola lengkung gigi antara model gigi pelaku dengan model bitemark apel
Terima kasih telah membaca ulasan singkat ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.